私の夢、努力、祈り

bermimpilah ... gapailah mimpi itu dengan usaha yang terbaik ... dan genapkanlah dengan doa yang tulus dan ikhlas karena-Nya

Rabu, 30 November 2011

"Pengorbanan yang Sebenarnya"

Bogor, 09 Dzulhijjah 1423 H / 05 November 2011 M : 05.09 WIB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dalam kitab suci Al-Quran QS Al-Kautsar ayat kedua, Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mendirikan salat dan berkurban (فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ). Jelaslah disini bahwa berkurban merupakan satu perintah yang langsung Allah SWT perintahkan sendiri kepada hamba-hambaNya. Bagi orang yang beriman perintah ini bukanlah hal yang memberatkan, karena keyakinan dalam dirinya akan memberikan harapan yang besar terhadap pahala yang Allah SWT janjikan kepadanya.

Dalam tulisan singkat ini, saya akan mencoba sedikit memaknai kurban dalam konteks kausalitas berdasarkan telaah percakapan antara Allah SWT dengan hambaNya Ibrahim AS dan antara Ibrahim AS dengan anaknya Ismail AS yang Allah SWT abadikan dalam QS As-Shafat ayat 99-113:

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
(yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".
كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ
Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ مُبِينٌ
Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

Dalam kisah tersebut, Ibrahim AS datang menghadap Allah SWT melalui perantara ibadah dengan satu keyakinan yang utuh bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa dan harapannya. Kemudian Ibrahim AS memohon dengan sungguh-sungguh agar diberi anugerah berupa seorang anak, karena dalam sejarahnya Ibrahim AS belum dikaruniai seorang anak hingga beliau berumur lanjut. Dalam doanya, Ibrahim AS memohon kepada Allah SWT untuk diberikan seorang anak dengan kriteria yang sangat jelas, yaitu seorang anak yang soleh. Doa dan harapan itu Allah SWT kabulkan dengan lahirnya seorang anak yang sangat penyabar, Ismail AS.

Namun, tatkala Ismail AS sampai pada usia remaja yang memang sangat dibutuhkan jasanya untuk mulai membantu orang tuanya, Allah SWT memerintahkan kepada Ibrahim AS untuk mengorbankannya hanya untuk Allah SWT. Ketika Ibrahim AS menanyakan kepada Ismail AS, Ismail AS menjawab dengan tegas "Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah SWT kepadamu. Insya Allah kau akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar". Sebuah jawaban pengorbanan yang sebenar-benarnya. Jawaban yang didasari keyakinan bahwa apa yang diperintahkan oleh Allah SWT pasti berbuah kebaikan dan pahala yang dijanjikanNya adalah benar.

Dengan kesabaran untuk menjalankan perintah Allah SWT itulah, Allah SWT mengganti pengorbanan keduanya dengan memberikan nikmat yang lebih dari yang mereka harapkan. Allah SWT memuji dan mensejahterakannya.

Dari kisah di atas, ada satu hal yang perlu kita cermati. Tauladan dari seorang ayahnya para nabi Allah SWT, Ibrahim AS, yang secara sabar mengikhlaskan rizki yang amat berharga baginya semata-mata hanya untuk Allah SWT. Ketika kondisi sebelumnya beliau begitu mengharapkan dengan penuh keyakinan, tetapi disaat Allah SWT mengabulkannya, kemudian dimintaNya kembali, Ibrahim AS ikhlas menyerahkannya.

Bagaimana dengan kita sebagai hamba yang dengan ikhlas selalu menyebut nama Ibrahim AS dalam setiap pertengahan dan akhir salat kita. Apakah kita sudah mampu mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dan mengikuti suri tauladan yang dicontohkannya?

Sebagai contoh kecil, ketika kita sangat mengharapkan suatu pekerjaan, dan dengan kuasaNya kita diberi pekerjaan yang membuat kita merasa cukup. Namun, ketika Allah SWT meminta kembali pekerjaan tersebut apakah sudah ada keikhlasan untuk menyerahkannya kembali? Hal kecil yang terkadang kita abaikan, tatkala Allah SWT meminta sedikit waktu kerja kita untuk bersegera menghadiri panggilan Allah SWT melalui adzan disetiap salat lima waktu. Apakah kita sudah mengikhlaskan sedikit waktu kita untuk sekedar hadir lebih awal di rumahNya menunggu panggilanNya? Ikhlas meluangkan sedikit waktu untuk salat berjama'ah dan menutup salat dengan berdzikir? Atau justru kita masih berat meninggalkan pekerjaan yang telah Allah SWT anugerahkan pada kita? Bahkan kita dengan beraninya memerintah Sang Maha Pemberi pekerjaan untuk menunggu, menunggu, dan menunggu. Ketika hayya'ala sholah berkumandang, kita masih berani untuk berucap, "tunggu ya, saya sedang bekerja..saya sedang kuliah..saya sedang mengajar..saya sedang belanja..saya sedang makan, dsb.". Memang ada dua kewajiban yang harus kita penuhi, tetapi pantaskan amal ibadah yang pertama kali akan dipertanyakan di akhirat kelak kita nomor duakan?

“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah shalat. Bila baik shalatnya maka ia telah lulus dan berunung, dan bila rusak shalatnya maka ia kecewa dan rugi.” (HR. ash-habus Sunan dari Abu Hurairah).

Di akhir tulisan ini, saya mengingatkan diri saya pribadi dan juga pembaca tulisan ini untuk kembali renungkan, untuk apa dan untuk siapa hidup ini kita dedikasikan. Jika kita ikhlas dengan pengakuan yang selalu kita ikrarkan dalam salat kita,

“Kuhadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi, dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kuserahkan kepada Allah Robb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, demikianlah yang diperintahkan kepadaku. Dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (dari orang-orang yang berserah diri)",

maka sudah selayaknya ketika apa yang telah kita minta dan Allah SWT beri lalu Dia memintanya kembali, kita harus siap, sabar, dan ikhlas menyerahkan kepada yang berhak memilikinya. Karena memang segala yang kita miliki di dunia ini hanya sekedar titipan, Allah SWT lah Sang Maha Pemilik mutlak. Dengan demikian, semoga kita mampu memberikan pengorbanan yang sebenar-benarnya sebagai jawaban atas perintah kurban (mendekatkan diri) kepada kita. Wallahu A'lam.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

'abidul faqir Mohammad Zaini Dahlan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar